Kompetisi BRI Super League 2025/2026 resmi berakhir setelah seluruh tim menyelesaikan 34 pertandingan pada Sabtu (23/5/2026). Musim ini ditutup dengan drama, persaingan ketat di papan atas, serta berbagai cerita menarik dari bangku pelatih.
Persib Bandung kembali menegaskan dominasinya dengan mengamankan gelar juara untuk ketiga kalinya secara beruntun. Kepastian itu didapat setelah mereka bermain imbang 0-0 melawan Persijap Jepara di Stadion GBLA, Bandung, di hadapan ribuan bobotoh yang memadati stadion.
Sementara itu, Borneo FC harus puas finis sebagai runner-up meski tampil luar biasa di laga terakhir dengan kemenangan besar 7-1 atas Malut United. Namun, selisih head-to-head membuat mereka tetap berada di posisi kedua klasemen akhir.
Di balik persaingan sengit tersebut, musim ini juga menghadirkan cerita menarik dari para pelatih. Nama Bojan Hodak kembali menjadi sorotan setelah sukses membawa Persib mencatat sejarah sebagai tim pertama yang meraih tiga gelar liga secara beruntun di era kompetisi modern Indonesia.
Di sisi lain, Fabio Lefundes juga layak mendapat apresiasi atas kerja kerasnya bersama Borneo FC yang mampu bersaing hingga pekan terakhir dalam perebutan gelar juara.
Namun, di tengah dominasi pelatih asing, keberadaan pelatih lokal Indonesia tetap menunjukkan eksistensi yang patut diperhitungkan. Dua nama yang paling menonjol musim ini adalah Hendri Susilo dan Imran Nahumarury.
Hendri Susilo: Pelatih Lokal yang Mampu Bersaing di Papan Atas
Hendri Susilo kembali membuktikan bahwa pelatih lokal masih mampu bersaing di tengah kuatnya dominasi pelatih asing di BRI Super League. Bahkan, pada beberapa fase musim, ia menjadi satu-satunya pelatih Indonesia yang ikut bersaing di jalur perebutan gelar.
Didatangkan untuk menangani Malut United, Hendri membawa harapan besar setelah klub tersebut sebelumnya tampil impresif dengan finis di peringkat ketiga musim lalu.
Awal musim berjalan cukup mengejutkan. Malut United langsung tampil agresif dengan kemenangan 3-1 atas Dewa United pada pekan pembuka. Mereka kemudian menahan imbang Bali United 3-3, serta bermain 1-1 melawan Persija Jakarta—hasil yang menunjukkan potensi besar tim asuhannya.
Meski begitu, performa Malut United tidak selalu stabil sepanjang musim. Naik turun performa menjadi tantangan utama yang harus dihadapi Hendri Susilo.
Salah satu momen paling mencolok terjadi saat Malut United mencatat kemenangan besar 7-0 atas PSBS Biak. Namun di sisi lain, mereka juga harus menelan kekalahan telak 1-7 dari Borneo FC di penghujung musim.
Secara keseluruhan, Malut United tetap mampu tampil kompetitif dan bahkan sempat mengganggu persaingan papan atas sebelum akhirnya finis di peringkat keenam dengan koleksi 53 poin.
Di bawah asuhan Hendri Susilo, Malut United mencatat 15 kemenangan, 8 hasil imbang, dan 11 kekalahan dengan rata-rata 1,56 poin per laga. Menariknya, mereka juga menjadi tim dengan produktivitas gol tertinggi kedua di liga dengan 68 gol, hanya kalah dari Borneo FC.
Imran Nahumarury: Tantangan Berat di Tengah Musim Bersama Semen Padang
Nama lain yang juga mencuri perhatian adalah Imran Nahumarury. Pelatih berusia 47 tahun ini dikenal sebagai salah satu pelatih lokal yang memiliki potensi besar setelah berpengalaman menangani PSIS Semarang dan Malut United.
Pada awal Maret 2026, Imran resmi ditunjuk oleh Semen Padang untuk menggantikan Dejan Antonic di tengah musim. Tugas berat langsung menantinya: menyelamatkan Kabau Sirah dari ancaman degradasi.
Namun, situasi yang dihadapi jauh dari mudah. Dalam 10 pertandingan yang dipimpinnya, Semen Padang hanya mampu meraih 1 kemenangan, sementara 9 laga lainnya berakhir dengan kekalahan.
Hasil tersebut membuat Semen Padang gagal bertahan di kasta tertinggi dan harus terdegradasi ke Pegadaian Championship musim depan setelah finis di peringkat ke-17 dengan hanya mengoleksi 20 poin.
Klub bahkan sudah dipastikan turun kasta sejak pekan ke-31, menandakan betapa sulitnya situasi yang harus dihadapi Imran dalam waktu singkat.
Secara statistik, di bawah asuhannya Semen Padang hanya mencatat rata-rata 0,3 poin per pertandingan, lebih rendah dibandingkan pendahulunya, Dejan Antonic yang mencatat 0,8 poin per laga.
Musim yang Menguatkan Peran Pelatih Lokal
Meski sorotan utama tetap tertuju pada Persib Bandung dan Borneo FC, musim BRI Super League 2025/2026 juga memberikan gambaran bahwa pelatih lokal Indonesia masih memiliki peran penting dalam kompetisi.
Hendri Susilo menunjukkan bahwa pelatih lokal bisa bersaing di papan atas dengan sistem dan konsistensi yang tepat. Sementara itu, Imran Nahumarury menghadapi tantangan berat yang menjadi bagian dari dinamika kerasnya kompetisi sepak bola Indonesia.
Keduanya menjadi bagian dari cerita besar musim ini, yang tidak hanya tentang perebutan gelar juara, tetapi juga tentang perjalanan, tekanan, dan eksistensi pelatih lokal di tengah dominasi nama-nama asing.
BACA JUGA :