• BTC$76,689.42
    -0.01%
  • ETH$2,088.36
    -1.28%
  • USDT$1.00
    0.00%
  • BNB$653.87
    -0.46%
  • XRP$1.35
    -1.04%
  • USDC$1.00
    0.00%
  • SOL$84.82
    -1.70%
  • TRX$0.37
    0.82%
  • STETH$2,088.78
    -1.28%
  • HYPE$62.05
    6.60%
  • DOGE$0.10
    -2.02%
  • ZEC$664.16
    3.74%
  • LEO$10.05
    0.75%
  • WSTETH$2,580.33
    -1.23%
  • WBTC$76,463.49
    -0.02%

SBOTOP: Timnas Indonesia U-17 Takluk dari Jepang, Taktik Kurniawan Dwi Yulianto Dipertanyakan

Timnas Indonesia U-17 harus mengakui keunggulan Jepang U-17 pada laga pamungkas Grup B Piala Asia U-17 2026. Dalam pertandingan yang digelar di Lapangan A King Abdullah Sports City Training Stadium, Jeddah, Selasa (12/5/2026) malam WIB, Garuda Muda kalah dengan skor 1-3 meski sempat memberikan perlawanan di beberapa momen penting.

Pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto, melakukan sejumlah penyesuaian strategi dan komposisi pemain dalam laga ini. Namun, dominasi permainan Jepang U-17 yang lebih rapi dan efektif membuat Indonesia kesulitan mengembangkan permainan sepanjang pertandingan.

Jepang U-17 Terlalu Dominan, Indonesia Gagal Imbangi Intensitas

Sejak awal laga, Jepang U-17 tampil dengan tempo tinggi dan penguasaan bola yang lebih stabil. Tim Samurai Biru mampu mengontrol jalannya pertandingan dan memaksa Indonesia lebih banyak bertahan di area sendiri.

Gol Jepang dicetak oleh Ryoma Tsuneyoshi (28’), Takeshi Wada (59’), dan Arata Okamoto (71’). Sementara itu, satu-satunya gol balasan Indonesia U-17 lahir dari situasi bola mati yang dimaksimalkan oleh Peres Tjoe pada menit ke-70.

Meski sempat memperkecil ketertinggalan, Indonesia tetap kesulitan mengejar tempo permainan lawan hingga laga berakhir.

Kurniawan Pertahankan Formasi 5-4-1 untuk Redam Jepang

Dalam laga ini, Kurniawan Dwi Yulianto tetap mempertahankan skema dasar 5-4-1 yang sudah digunakan pada dua pertandingan sebelumnya di fase grup. Formasi ini lebih difokuskan untuk memperkuat pertahanan dan menutup ruang di area belakang.

Secara prinsip, pola ini memang sering digunakan Garuda Muda ketika menghadapi tim dengan kualitas di atas mereka. Dengan lima pemain di lini belakang, Indonesia mencoba meredam serangan cepat Jepang sejak awal.

Sebelumnya, formasi serupa juga pernah digunakan saat tampil di Piala AFF U-16 2026. Sementara itu, ketika menghadapi lawan yang dianggap seimbang atau lebih lemah, Indonesia biasanya lebih berani bermain dengan skema 4-3-3 yang lebih ofensif.

Rotasi Pemain Warnai Laga Kontra Jepang U-17

Salah satu hal menarik dari pertandingan ini adalah adanya perubahan komposisi pemain yang dilakukan oleh Kurniawan Dwi Yulianto. Beberapa pemain mendapat kesempatan tampil sebagai starter untuk pertama kalinya di turnamen ini.

Di lini pertahanan, Zidane Chandra dan Made Arbi dipercaya tampil sejak awal. Keduanya didampingi oleh pemain yang lebih berpengalaman di turnamen ini seperti Matthew Baker, Fariq Rizki, dan Pandu Aryo.

Sementara itu, di lini tengah, Alfredo Nugroho menjalani debutnya di Piala Asia U-17 2026 dan berduet dengan Noha Pohan untuk menjaga keseimbangan permainan.

Di sektor depan, Fardan Ary juga mendapat kesempatan tampil pertama kali dalam turnamen ini untuk menambah variasi serangan Garuda Muda.

Bola Mati Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia U-17

Dalam menghadapi tekanan dari Jepang U-17, Indonesia masih mengandalkan skema bola mati sebagai salah satu senjata utama untuk menciptakan peluang.

Strategi ini terbukti cukup efektif ketika menghasilkan gol tunggal Indonesia yang dicetak oleh Peres Tjoe melalui eksekusi bola mati dari sisi kanan serangan. Situasi tersebut tidak mampu diantisipasi dengan baik oleh kiper Jepang.

Selain bola mati, Indonesia juga mencoba memanfaatkan skema serangan balik cepat. Namun, peluang yang berhasil dibangun melalui transisi ini masih sangat terbatas dan belum mampu menghasilkan ancaman yang konsisten ke gawang lawan.

Masalah Transisi Bertahan Kembali Jadi Titik Lemah

Salah satu catatan penting yang kembali muncul dalam laga ini adalah kelemahan Indonesia U-17 dalam mengantisipasi transisi cepat lawan. Masalah ini sebenarnya sudah terlihat pada pertandingan sebelumnya saat kalah 0-2 dari Qatar U-17.

Pada laga tersebut, Qatar mampu memanfaatkan serangan balik untuk mencetak dua gol. Pola serupa kembali terjadi saat menghadapi Jepang U-17, di mana dua gol tambahan lawan tercipta dari situasi transisi cepat.

Perbedaannya, jika Qatar lebih banyak menyerang melalui area tengah, Jepang memaksimalkan sisi sayap sebelum mengirimkan umpan silang berbahaya ke dalam kotak penalti.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Garuda Muda masih perlu memperbaiki organisasi pertahanan, terutama dalam transisi dari menyerang ke bertahan.

Evaluasi Penting untuk Masa Depan Garuda Muda

Kekalahan dari Jepang U-17 ini menjadi bahan evaluasi penting bagi Timnas Indonesia U-17 di Piala Asia U-17 2026. Meski sudah menunjukkan beberapa perkembangan, terutama dalam disiplin bertahan dan memanfaatkan bola mati, masih ada celah yang perlu segera diperbaiki.

Dengan pengalaman melawan tim sekelas Jepang, diharapkan Garuda Muda bisa mendapatkan pelajaran berharga untuk perkembangan pemain muda Indonesia ke depannya, terutama dalam menghadapi tekanan dan intensitas tinggi di level internasional.

BACA JUGA :