Kepindahan Theo Hernandez dari AC Milan ke Al Hilal pada musim panas lalu sempat memantik tanda tanya besar di kalangan pendukung Rossoneri. Di tengah kondisi klub yang sedang menata ulang finansial dan gagal mengamankan tiket Liga Champions, Milan justru melepas salah satu pemain paling konsisten mereka dalam beberapa musim terakhir.
Transfer bernilai sekitar 25 juta euro itu terasa janggal bagi banyak pihak. Theo adalah figur kunci di sisi kiri pertahanan, simbol agresivitas, dan salah satu motor serangan Milan. Wajar jika publik bertanya-tanya: apakah keputusan itu murni strategi klub, atau dorongan dari sang pemain yang disebut-sebut mengincar kontrak lebih besar?
Narasi yang berkembang kala itu menyudutkan Theo. Ia dituding mengajukan tuntutan gaji tinggi sehingga negosiasi kontrak buntu. Namun, berbulan-bulan setelah kepergiannya, Theo akhirnya membuka suara—dan versinya sangat berbeda dari rumor yang beredar.
Bertemu Milan Jelang Laga Kontra Napoli
Meski kini membela Al Hilal, hubungan Theo dengan Milan tidak serta-merta terputus. Ia bahkan sempat kembali bertemu para pemain Rossoneri menjelang laga melawan Napoli di ajang Supercoppa Italiana pekan lalu. Pertemuan singkat itu berlangsung emosional, mengingat Theo mengaku tidak sempat berpamitan secara layak saat resmi meninggalkan San Siro.
Dalam wawancara bersama Gazzetta dello Sport, Theo mengungkapkan momen tersebut dengan jujur. “Ya, sebelum pertandingan melawan Napoli. Saat saya pergi, saya tidak bisa memeluk mereka semua seperti yang saya inginkan. Saya menyesal mereka kalah,” tuturnya.
Theo juga menyempatkan diri memberi apresiasi kepada beberapa sosok. Ia menyampaikan selamat kepada Bartesaghi, serta memeluk Modric—rekan lama yang pernah bermain bersamanya di Madrid. “Seorang jenius. Ia berada di level yang berbeda,” puji Theo.
Ia mengonfirmasi sempat bertemu beberapa figur penting di internal Milan. “Allegri, Tare, dan Ibra. Furlani tidak datang,” ungkapnya. Pengakuan ini memperlihatkan bahwa relasi personal Theo dengan banyak elemen klub masih terjaga, meski perpisahan terjadi di tengah ketegangan.
Tak Pernah Berniat Pergi: Ultimatum yang Mengubah Segalanya
Bagian paling mengejutkan dari pengakuan Theo adalah penegasannya bahwa ia tidak pernah berniat meninggalkan Milan. Menurutnya, Rossoneri selalu menjadi prioritas utama dalam karier. Ia juga membantah keras tudingan bahwa tuntutan gaji menjadi biang kerok kegagalan negosiasi.
Theo mengaku kecewa karena merasa tidak diperlakukan sebagaimana mestinya, terutama setelah kontribusi besar yang ia berikan. Ia menyebut beberapa rekan setim bahkan mendorongnya untuk bertahan. Namun, sebuah ultimatum dari petinggi klub mengubah segalanya.
“Tidak akan pernah. Prioritas saya adalah untuk tetap tinggal,” kata Theo tegas saat ditanya apakah ia berniat angkat kaki dari San Siro. “Saya pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Saya tidak mengharapkannya.”
Ia lalu membeberkan inti masalahnya. “Beberapa rekan tim mendorong saya untuk tetap tinggal, tetapi ketika seorang direktur menelepon Anda dan mengatakan, ‘Jika Anda tetap di sini, kami akan mencoret Anda dari skuad,’ lalu apa yang bisa saya lakukan?” ungkapnya blak-blakan.
Ultimatum tersebut, menurut Theo, menempatkannya pada posisi yang mustahil. Bertahan berarti berisiko tak bermain; pergi menjadi satu-satunya opsi realistis untuk menjaga karier dan performa.
Antara Strategi Klub dan Dampak Lapangan
Pengakuan Theo menambah lapisan baru dalam perdebatan soal kebijakan Milan. Dari sudut pandang manajemen, melepas pemain bernilai tinggi bisa menjadi langkah rasional di tengah restrukturisasi. Namun, dari sisi olahraga, kehilangan Theo jelas berdampak pada dinamika tim—baik secara defensif maupun ofensif.
Dalam beberapa musim terakhir, Theo bukan sekadar bek kiri. Ia adalah outlet progresi bola, pemecah tekanan, dan ancaman konstan di sepertiga akhir. Kehilangannya menuntut penyesuaian taktik dan personel, yang tidak selalu berjalan mulus.
Bab Baru di Timur Tengah, Luka yang Tersisa di Milan
Di Al Hilal, Theo membuka bab baru dengan tantangan berbeda. Liga dan konteksnya memang berubah, tetapi ambisi pribadi tetap sama: bermain, berkontribusi, dan memenangkan trofi. Meski demikian, dari tutur katanya, terlihat jelas bahwa perpisahan dengan Milan menyisakan luka emosional.
Pengakuan ini juga menjadi pengingat bahwa di balik keputusan transfer besar, sering kali ada dinamika internal yang tak terlihat publik. Ultimatum, komunikasi, dan rasa saling percaya bisa menjadi faktor penentu—bahkan bagi pemain yang dianggap ikon klub.
Bagi Milan, kisah Theo Hernandez kini menjadi cermin. Di tengah upaya membangun ulang identitas dan stabilitas, pengelolaan hubungan dengan pemain kunci sama pentingnya dengan neraca keuangan. Sementara bagi Theo, kebenaran versinya akhirnya tersampaikan: ia tidak pergi karena uang, melainkan karena pilihan yang dipaksakan.
BACA JUGA :