• BTC$93,540.69
    2.30%
  • ETH$3,194.34
    3.08%
  • USDT$1.00
    0.05%
  • BNB$942.04
    4.02%
  • XRP$2.11
    2.29%
  • SOL$143.26
    1.81%
  • USDC$1.00
    -0.04%
  • TRX$0.30
    1.81%
  • STETH$3,192.50
    3.00%
  • DOGE$0.14
    4.00%
  • ADA$0.41
    3.55%
  • WSTETH$3,910.17
    3.06%
  • XMR$670.48
    11.69%
  • BCH$611.80
    -1.15%
  • WBTC$93,315.86
    2.26%

SBOTOP : Ben Foster Bongkar Alasan Kobbie Mainoo Merasa Kurang Dihargai di Manchester United

Mantan penjaga gawang Manchester United, Ben Foster, melontarkan pandangan kritis mengenai situasi yang tengah dialami gelandang muda Inggris, Kobbie Mainoo, di Old Trafford. Foster menilai ada satu faktor krusial yang berpotensi membuat Mainoo merasa kurang dihargai oleh klub yang membesarkan namanya sejak akademi.

Dalam perbincangan di podcast pribadinya, Fozcast, Foster menyebut nama Mainoo sebagai salah satu topik paling menarik sepanjang musim ini. Menurutnya, perubahan peran sang gelandang di era kepelatihan Ruben Amorim memunculkan banyak tanda tanya—terutama terkait menit bermain dan kejelasan posisi di dalam rencana tim.

Menit Bermain Menyusut, Posisi Kian Tak Jelas

Sejak Amorim memilih menempatkan Bruno Fernandes sebagai bagian dari pivot dua gelandang, ruang Mainoo perlahan menyempit. Talenta berusia 20 tahun itu bahkan belum sekali pun menjadi starter di Liga Inggris musim 2025/26. Kesempatannya sejauh ini datang melalui penampilan singkat sebagai pemain pengganti—situasi yang kontras dengan statusnya sebagai salah satu prospek paling menjanjikan akademi United.

Bagi Foster, kondisi tersebut wajar memicu kegelisahan. Ia menilai, bagi pemain muda yang sedang berada pada fase krusial perkembangan, kontinuitas bermain adalah kebutuhan mendasar—bukan sekadar bonus.

Foster Kecewa dengan Sinyal dari Manajer

Foster mengaku kecewa dengan sejumlah komentar Amorim yang belakangan menyinggung Mainoo dan pemain akademi lainnya. Ia juga menyoroti reaksi sejumlah pemain muda yang mengekspresikan kekecewaan melalui media sosial—indikasi adanya ketegangan internal.

“Ini pembahasan yang sangat menarik. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Kobbie Mainoo? Kenapa dia tidak bermain? Pemberitaan tentang dirinya begitu besar,” ujar Foster.
Ia menambahkan, “Bagaimana Manchester United bisa sampai di titik ini, ketika pemain muda merasa perlu ‘bersuara’ lewat Instagram? Jujur saja, ini memalukan.”

Bagi Foster, ekspresi publik semacam itu sering kali menjadi sinyal bahwa komunikasi internal tidak berjalan ideal—sesuatu yang seharusnya bisa diantisipasi oleh klub sebesar Manchester United.

Faktor Finansial yang Mengganjal

Di luar persoalan taktik, Foster menilai ada faktor non-teknis yang tak kalah penting: apresiasi finansial. Kontrak Mainoo dilaporkan masih berlaku hingga 2027 dengan gaji sekitar £25 ribu per pekan—angka yang dinilai jauh di bawah standar pemain inti.

Di saat yang sama, klub memberikan kontrak besar kepada rekrutan anyar seperti Bryan Mbeumo dan Matheus Cunha. Foster menduga disparitas ini berkontribusi pada rasa kurang dihargai.

“Mereka mencoba menarik garis tegas, tapi di sisi lain justru memberi kontrak ratusan ribu pound kepada Cunha dan Mbeumo,” kata Foster. “Saya bisa memahami jika Mainoo merasa kesal karena tidak diperlakukan dengan cara yang sama.”

Isu Transfer dan Kekhawatiran Karier

Di tengah minimnya menit bermain, Mainoo juga santer dikaitkan dengan kemungkinan hengkang pada bursa transfer Januari. Napoli disebut sebagai salah satu peminat yang memantau situasinya. Ketertarikan itu dikaitkan dengan keinginan Mainoo tampil reguler demi menjaga peluang masuk skuad Inggris menuju Piala Dunia 2026.

Bagi pemain muda, keputusan bertahan atau pindah sering kali bukan soal gengsi, melainkan jalur karier. Menit bermain, peran jelas, dan kepercayaan pelatih menjadi variabel utama.

Melihat dari Sisi Manajer

Meski kritis, Foster juga berusaha adil dengan melihat persoalan dari sudut pandang manajer. Ia mengakui publik tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik layar Carrington—mulai dari etos latihan, sikap profesional, hingga detail taktis.

“Kita tidak tahu bagaimana dia di balik layar. Harus ada alasan kenapa dia tidak dilibatkan. Manajer pasti melihat sesuatu,” ujar Foster.
Namun ia menambahkan, “Jika pemain dengan kemampuan luar biasa seperti Mainoo bekerja keras, seharusnya dia terlibat.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa keputusan teknis memang kompleks, tetapi konsistensi meritokrasi tetap menjadi tuntutan di klub elite.

Konteks Musim dan Tantangan Kebugaran

Musim ini, Mainoo telah mencatatkan 12 penampilan di semua kompetisi bersama Setan Merah. Ia sempat absen pada kekalahan 1-2 dari Aston Villa akibat cedera—faktor yang juga memengaruhi ritme dan kesempatan tampil.

Namun, seiring pulihnya kondisi, sorotan kembali mengarah pada satu pertanyaan besar: apakah Mainoo akan mendapat peran yang sepadan dengan potensinya?

Penutup: Titik Kritis yang Menentukan

Situasi Kobbie Mainoo kini berada di persimpangan. Di satu sisi, ia memiliki bakat, usia, dan pengalaman kompetitif yang menjanjikan. Di sisi lain, ia membutuhkan kejelasan peran dan apresiasi yang konsisten—baik secara teknis maupun finansial.

Pandangan Ben Foster menambah bobot diskusi publik, sekaligus menjadi pengingat bahwa pengelolaan talenta muda di klub besar menuntut keseimbangan antara tuntutan hasil instan dan investasi jangka panjang. Apakah Manchester United mampu meredam kegelisahan ini dan mengembalikan Mainoo ke jalur idealnya? Jawabannya akan sangat menentukan arah karier sang gelandang—dan narasi pembinaan di Old Trafford.

BACA JUGA :