• BTC$77,805.97
    -0.25%
  • ETH$2,287.00
    0.82%
  • USDT$1.00
    -0.03%
  • BNB$703.98
    -1.60%
  • XRP$1.25
    -0.08%
  • USDC$1.00
    0.03%
  • SOL$94.24
    -0.87%
  • TRX$0.32
    2.51%
  • STETH$2,286.47
    0.82%
  • HYPE$85.93
    -2.49%
  • ZEC$1,263.40
    1.60%
  • DOGE$0.08
    -0.55%
  • XMR$605.10
    0.52%
  • WSTETH$2,854.15
    0.88%
  • USDS$1.00
    -0.01%

SBOTOP Asian Para Games 2026: Ni Nengah Widiasih Persembahkan Medali Pertama untuk Mendiang Ibu

Atlet angkat berat Indonesia, Ni Nengah Widiasih, berhasil mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih medali pertama untuk tim Merah Putih di Asian Para Games 2026. Dalam kompetisi yang berlangsung di Nagoya City Trade and Industry Center, Prefektur Aichi, Jepang, pada hari Senin (19/10/2026), Widi—sapaan akrabnya—mendapatkan medali perunggu di kategori 41 kg putri.

Pencapaian yang Membanggakan

Pencapaian ini semakin spesial karena Widi meraih angkatan terbaik seberat 97 kg, menempatkannya di posisi ketiga. Medali emas diraih oleh atlet asal China, Cui Zhe, dengan angkatan 120 kg, sementara perak jatuh kepada Tursynay Kabyl dari Kazakhstan yang berhasil mengangkat 104 kg. Meskipun hanya bisa meraih medali perunggu kali ini, Widi merasa bangga karena berhasil mempertahankan tradisi mendapatkan medali di setiap edisi Asian Para Games. Sebelumnya, pada edisi 2014, 2018, dan 2022, ia selalu membawa pulang medali perak.

Pada edisi kali ini, kompetisi di kelas 41 kg putri terasa semakin ketat. Atlet dari China, Cui Zhe, yang sebelumnya bertanding di kelas 45 kg, kembali dengan performa yang luar biasa, sedangkan Tursynay Kabyl adalah peraih perak di kelas 41 kg pada edisi sebelumnya. Dalam suasana persaingan yang sangat kompetitif ini, Widi mengungkapkan rasa syukurnya karena akhirnya bisa meraih medali bagi Indonesia meskipun harus berjuang dengan cedera yang dideritanya.

Motivasi dari Kehilangan

Dibalik kesuksesannya, terdapat kisah emosional yang mendalam. Widi mendedikasikan medali yang diraih untuk mendiang ibunya yang baru saja berpulang. Dalam kenangannya, saat mengikuti Paralimpiade Paris 2024, ibunya meninggal dunia hanya dua minggu sebelum ia berkompetisi. Kejadian tragis ini sangat berpengaruh pada kondisi mental Widi, dan membuatnya gagal memenuhi impian ibunya untuk melihatnya meraih hattrick medali di ajang tersebut.

“Kondisi yang saya alami di saat itu sangat sulit. Kehilangan ibu membuat saya berjuang lebih keras. Saya ingin memberikan yang terbaik bagi beliau dengan meraih medali dalam setiap kompetisi,” ungkap Widi saat menceritakan pengalamannya. Ia merasa medali ini adalah bentuk penghormatan dan dedikasi kepada ibunya yang selalu mendukung karirnya.

Banyak yang beranggapan bahwa perolehan medali perunggu adalah suatu kemunduran dibandingkan prestasi sebelumnya. Namun, Widi memandang ini dari sudut yang berbeda. Ia percaya bahwa setiap perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan adalah bagian dari proses menuju pencapaian yang lebih tinggi. “Walau hanya perunggu, tapi ini sangat berarti bagi saya dan keluarga,” tambahnya. Dengan kondisi cedera yang masih belum sepenuhnya pulih, Widi bertekat untuk terus berlatih dan meningkatkan performanya. “Target utama saya adalah memperbaiki peringkat dunia saya untuk memastikan tiket ke Paralimpiade Los Angeles 2028,” pungkasnya.

BACA JUGA :