Persis Solo berada di titik paling menentukan dalam perjalanan mereka di BRI Super League 2025/2026. Memasuki fase krusial kompetisi, Laskar Sambernyawa masih tertahan di dasar klasemen, dengan tekanan degradasi yang semakin nyata dari pekan ke pekan.
Hingga pekan ke-12, Persis Solo menempati posisi ke-18 dengan raihan tujuh poin. Catatan tersebut menjadi alarm keras bagi klub kebanggaan masyarakat Solo itu, terutama karena mereka belum mampu mencatatkan satu pun kemenangan sejak laga pembuka musim. Ruang untuk melakukan kesalahan kini nyaris tak tersisa.
Situasi sulit ini membuat setiap pertandingan ke depan bukan sekadar perebutan tiga poin, melainkan ujian mental, konsistensi, dan arah masa depan klub di kasta tertinggi sepak bola nasional.
Harapan Baru Bersama Milomir Seslija
Di tengah kondisi genting tersebut, Persis Solo mencoba menyalakan kembali optimisme dengan menunjuk Milomir Seslija sebagai pelatih kepala. Pelatih asal Bosnia-Herzegovina itu datang membawa reputasi sebagai sosok berpengalaman dalam menangani tim yang berada di bawah tekanan.
Seslija mengemban misi berat: menghentikan tren negatif yang telah berlangsung sejak awal musim dan mengangkat performa tim secara bertahap. Kehadirannya diharapkan mampu memberi sentuhan baru, baik dari sisi taktik maupun mentalitas pemain.
Meski waktu adaptasi sangat terbatas, manajemen Persis Solo berharap pendekatan Milo—sapaan akrabnya—mampu memberi dampak cepat dalam situasi darurat seperti saat ini.
Fokus Pembenahan Permainan dan Mental Pemain
Menurut Milomir Seslija, langkah pertama yang harus dilakukan bukan sekadar mengganti sistem permainan, melainkan membenahi fondasi dasar tim. Ia menekankan pentingnya kualitas pengambilan keputusan, pemahaman taktik, dan kemampuan teknis setiap pemain.
“Kami perlu membantu para pemain untuk meningkatkan cara mengambil keputusan di lapangan, kemampuan teknis, dan pemahaman permainan,” ujar pelatih berusia 62 tahun tersebut.
Ia menilai bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang kerap terjadi dalam pertandingan Persis Solo bersumber dari kurangnya kepercayaan diri dan konsentrasi. Oleh karena itu, perbaikan mental menjadi fokus utama selain aspek teknis.
“Jika kami mengabaikan perkembangan setiap individu, tim ini tidak akan pernah benar-benar berkembang,” tambahnya.
Keyakinan Milo terhadap potensi skuad menjadi modal penting untuk membangun kembali rasa percaya diri para pemain, yang dalam beberapa pekan terakhir terlihat tertekan oleh hasil buruk.
Tekanan Klasemen dan Rekor Tanpa Kemenangan
Statistik Persis Solo musim ini mencerminkan betapa beratnya situasi yang dihadapi. Dari 12 pertandingan, Laskar Sambernyawa hanya mampu mengumpulkan empat poin dari empat hasil imbang, sementara delapan laga lainnya berakhir dengan kekalahan.
Kemenangan terakhir Persis terjadi pada pekan pembuka saat menundukkan Madura United dengan skor 2-1. Sejak saat itu, konsistensi tidak pernah terjaga, dan performa tim terus menurun hingga terperosok di papan bawah.
Rekor tanpa kemenangan ini membuat tekanan terhadap pemain dan staf pelatih semakin besar. Setiap laga kini memiliki nilai ganda, tidak hanya dalam perhitungan poin, tetapi juga dalam menjaga kepercayaan publik dan suporter.
Bursa Transfer Jadi Kunci Penyelamatan Musim
Selain pembenahan internal, Milomir Seslija secara terbuka menyoroti pentingnya bursa transfer sebagai salah satu solusi utama. Menurutnya, Persis Solo membutuhkan tambahan pemain untuk meningkatkan kualitas dan kedalaman skuad.
“Kami membutuhkan perubahan jika ingin maju,” tegas Milo. “Kami harus menciptakan persaingan yang sehat dan menambah kualitas agar semua pemain bisa berkembang dan mencapai potensi terbaik mereka.”
Masuknya pemain baru diharapkan mampu memberi dampak langsung, baik dari sisi kualitas permainan maupun atmosfer persaingan di dalam tim. Dengan persaingan yang lebih ketat, setiap pemain dituntut tampil maksimal demi mengamankan tempat di starting XI.
Namun, manajemen Persis juga dihadapkan pada tantangan finansial dan waktu yang terbatas. Rekrutmen pemain harus dilakukan dengan tepat sasaran agar benar-benar menjawab kebutuhan tim, bukan sekadar menambah jumlah.
Setiap Laga Jadi Final bagi Laskar Sambernyawa
Dengan posisi di dasar klasemen, Persis Solo tidak lagi memiliki kemewahan untuk bereksperimen terlalu lama. Setiap pertandingan ke depan akan menjadi laga final, di mana hasil imbang pun mulai dianggap kurang ideal.
Tekanan ini menuntut kedewasaan para pemain dalam menghadapi situasi sulit. Selain strategi pelatih, faktor kepemimpinan di dalam lapangan juga akan sangat menentukan.
Persis Solo harus mampu mengubah tekanan menjadi motivasi jika ingin keluar dari zona degradasi. Kesalahan kecil yang selama ini menghantui harus diminimalisir, sementara peluang sekecil apa pun harus dimaksimalkan.
Peluang Bertahan Masih Terbuka
Meski situasi terlihat suram, peluang Persis Solo untuk bertahan di BRI Super League masih terbuka. Jarak poin antar tim di papan bawah belum terlalu jauh, sehingga satu atau dua kemenangan beruntun bisa mengubah peta klasemen secara signifikan.
Milomir Seslija tetap optimistis dengan misi penyelamatan ini. “Saya percaya kami bisa memperbaiki keadaan dan tetap berada di liga,” ujarnya.
Kini, segalanya bergantung pada kecepatan adaptasi, efektivitas pembenahan, dan keberanian tim untuk bangkit di tengah tekanan. Bagi Persis Solo, sisa musim ini bukan hanya soal bertahan, tetapi juga tentang menjaga harga diri dan eksistensi di level tertinggi sepak bola Indonesia.
BACA JUGA :