• BTC$95,074.55
    4.22%
  • ETH$3,317.39
    7.21%
  • USDT$1.00
    0.06%
  • XRP$2.15
    4.84%
  • BNB$941.50
    3.87%
  • SOL$144.97
    4.05%
  • USDC$1.00
    -0.07%
  • STETH$3,316.15
    7.15%
  • TRX$0.31
    2.42%
  • DOGE$0.15
    7.94%
  • ADA$0.42
    8.64%
  • WSTETH$4,061.32
    7.22%
  • XMR$678.52
    7.85%
  • BCH$616.09
    -1.03%
  • WBTC$94,856.30
    4.23%

SBOTOP : Pelatih Thailand U-22 Meminta Maaf kepada Suporter Setelah Kalah dari Vietnam di Final SEA Games 2025

Kegagalan Timnas Thailand U-22 meraih medali emas SEA Games 2025 menyisakan kekecewaan mendalam. Bermain di hadapan publik sendiri di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand harus mengakui keunggulan Vietnam U-22 dengan skor dramatis 2-3 pada partai final yang digelar Kamis (18/12/2025). Kekalahan tersebut terasa semakin menyakitkan karena Thailand sempat unggul dua gol lebih dulu pada babak pertama.

Pelatih Thailand U-22, Thawatchai Damrong-ongtrakul, tampil terbuka seusai pertandingan. Ia secara jujur mengakui kesalahan dalam perhitungan taktik dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik sepak bola Thailand atas kegagalan timnya mencapai target juara di ajang multi-event terbesar Asia Tenggara tersebut.

Unggul Dua Gol, Thailand Gagal Pertahankan Momentum

Thailand U-22 memulai laga final dengan penuh kepercayaan diri. Dukungan puluhan ribu suporter di Stadion Rajamangala menjadi energi tambahan bagi skuad War Elephant Muda. Hasilnya, Thailand tampil agresif sejak menit awal dan mampu menekan pertahanan Vietnam.

Keunggulan Thailand tercipta pada menit ke-20 melalui Yotsakorn Burapha yang memanfaatkan celah di lini belakang Vietnam. Gol tersebut disambut gegap gempita penonton. Kepercayaan diri Thailand semakin meningkat ketika Seksan Ratre menggandakan keunggulan pada menit ke-31 lewat penyelesaian klinis di dalam kotak penalti. Skor 2-0 bertahan hingga turun minum dan membuat Thailand berada di atas angin.

Namun, keunggulan dua gol itu justru menjadi titik balik yang tidak diharapkan. Selepas jeda, permainan Thailand kehilangan intensitas, sementara Vietnam tampil lebih berani dan disiplin dalam menekan.

Vietnam Bangkit di Babak Kedua dan Perpanjangan Waktu

Vietnam U-22 memulai babak kedua dengan tempo tinggi. Tekanan berbuah hasil ketika mereka mendapat hadiah penalti pada menit ke-49. Nguyen Dinh Bac menjalankan tugasnya dengan sempurna dan memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1.

Momentum sepenuhnya berpihak kepada Vietnam. Thailand terlihat mulai gugup dan kehilangan kontrol permainan. Petaka datang pada menit ke-60 ketika bek Thailand, Waris Choolthong, melakukan gol bunuh diri yang membuat skor kembali imbang 2-2.

Hingga waktu normal berakhir, kedua tim gagal mencetak gol tambahan. Laga pun berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Pada menit ke-96, Vietnam memastikan kemenangan lewat gol Nguyen Thanh Nhan yang memanfaatkan kelengahan lini pertahanan Thailand. Skor 3-2 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Thawatchai Akui Kesalahan Taktik dan Minta Maaf

Usai pertandingan, Thawatchai Damrong-ongtrakul tidak mencari kambing hitam. Pelatih berusia 51 tahun itu dengan tegas menyatakan bahwa kegagalan Thailand sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.

“Masalahnya bukan pada satu hal spesifik. Jika kami kalah, itu adalah kesalahan saya. Ini soal taktik,” ujar Thawatchai. Ia menilai keputusan dan pendekatan permainan pada babak kedua tidak berjalan sesuai rencana, sehingga Vietnam mampu membalikkan keadaan.

Ia juga menyinggung hilangnya momentum setelah Thailand kebobolan gol cepat di awal babak kedua. Menurutnya, situasi tersebut membuat para pemain kehilangan kepercayaan diri dan kesulitan mengendalikan ritme pertandingan.

“Saya dengan tulus meminta maaf kepada para penggemar dan manajemen. Tujuan utama kami adalah memenangkan SEA Games di negara sendiri, dan kami gagal mewujudkannya,” tambahnya.

Soroti Faktor Fisik dan Mental Vietnam

Selain mengakui kesalahan taktik, Thawatchai juga memberikan kredit penuh kepada Vietnam U-22. Ia terkesan dengan kekuatan mental dan kondisi fisik skuad asuhan Kim Sang-sik yang mampu bangkit setelah tertinggal dua gol.

Menurutnya, kebugaran pemain Vietnam menjadi pembeda utama di laga final. Thailand, meski telah berusaha melakukan rotasi pemain sepanjang turnamen, tetap mengalami penurunan stamina pada babak kedua dan perpanjangan waktu.

“Para pemain kami sudah berjuang sekuat tenaga, tetapi tubuh mereka berada di bawah tekanan besar akibat jadwal padat klub dan tim nasional. Pemain Vietnam berada dalam kondisi fisik yang jauh lebih baik,” jelas Thawatchai.

Masa Depan Pelatih Thailand U-22 Masih Tanda Tanya

Kekalahan ini juga memunculkan spekulasi mengenai masa depan Thawatchai Damrong-ongtrakul sebagai pelatih Thailand U-22. Ia mengungkapkan bahwa kontraknya hanya berlaku hingga Kejuaraan Asia 2026 yang akan digelar pada Januari mendatang.

“Jika kami tidak mencapai target, terserah asosiasi untuk memutuskan. Setelah kontrak saya berakhir, saya tidak tahu apa yang akan terjadi,” ujarnya diplomatis.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa evaluasi besar kemungkinan akan dilakukan oleh Asosiasi Sepak Bola Thailand dalam waktu dekat.

Puasa Gelar Thailand Berlanjut hingga Delapan Tahun

Kekalahan dari Vietnam U-22 di final SEA Games 2025 memperpanjang puasa gelar Thailand menjadi delapan tahun. Padahal, Thailand masih tercatat sebagai negara tersukses dalam sejarah sepak bola putra SEA Games dengan koleksi 16 medali emas.

Terakhir kali Thailand meraih emas adalah pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur. Setelah itu, performa mereka terus menurun. Pada SEA Games 2019 di Filipina, Thailand bahkan tersingkir di fase grup. Selanjutnya, mereka harus menelan tiga kekalahan beruntun di final, masing-masing dari Vietnam pada 2021, Indonesia pada 2023, dan kembali dari Vietnam pada 2025.

Hasil ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi sepak bola Thailand. Di tengah dominasi Vietnam yang semakin kuat di level Asia Tenggara, Thailand dituntut segera berbenah agar kembali ke puncak prestasi regional.

BACA JUGA :