Timnas Maroko mengawali perjalanan mereka di Piala Afrika 2025 dengan langkah meyakinkan. Bermain di hadapan publik sendiri, Singa Atlas menundukkan Comoros dengan skor 2-0 pada laga pembuka fase grup. Kemenangan ini bukan hanya penting dari sisi hasil, tetapi juga sarat makna karena memperlihatkan kedalaman skuad Maroko—terutama saat harus bermain tanpa salah satu bintang utamanya, Achraf Hakimi.
Absennya Hakimi dari susunan starter sempat memunculkan tanda tanya. Bek kanan andalan Maroko itu belum sepenuhnya pulih dari cedera pergelangan kaki kiri yang didapat saat membela Paris Saint-Germain di Liga Champions. Pelatih kepala Walid Regragui memilih berhati-hati dan menyimpan sang kapten di bangku cadangan. Keputusan itu terbukti tepat, karena penggantinya, Noussair Mazraoui, tampil gemilang sejak menit pertama.
Mazraoui Mengisi Peran Hakimi Sejak Awal
Mazraoui dipercaya mengisi posisi bek kanan—pos yang identik dengan Hakimi. Pemain Manchester United tersebut langsung menunjukkan kapasitasnya. Selain disiplin dalam bertahan, ia aktif membantu serangan dan membaca ruang dengan cerdas. Kontribusinya paling nyata hadir pada gol pembuka Maroko yang dicetak Brahim Diaz pada menit ke-55, ketika umpan terukurnya dari sisi kanan memecah kebuntuan.
Gol kedua Maroko dicetak Ayoub El Kaabi, memastikan tiga poin perdana di Stadion Prince Moulay Abdellah. Kemenangan ini diraih meski Maroko sempat membuang peluang emas lewat penalti yang gagal dieksekusi Soufiane Rahimi di babak pertama. Fakta bahwa Maroko tetap tenang dan efektif menjadi indikator kematangan tim tuan rumah.
Pujian Regragui dan Kedalaman Skuad
Regragui tak menutupi kekagumannya pada penampilan Mazraoui. Ia menilai sang pemain mampu menjalankan peran krusial dengan karakter berbeda dari Hakimi, namun sama-sama berdampak besar bagi tim.
“Tanpa Hakimi kami sebenarnya bisa tampil lebih baik, tetapi Mazraoui fantastis. Saya menempatkannya dalam hierarki yang sama kuatnya dengan Achraf, meski dia memiliki kualitas yang berbeda,” ujar Regragui usai laga.
Pernyataan tersebut menegaskan satu hal: Maroko bukan tim yang bergantung pada satu nama. Regenerasi dan kedalaman skuad menjadi kekuatan utama Singa Atlas, yang dalam beberapa tahun terakhir konsisten melahirkan pemain berlevel elite di Eropa.
Hakimi Tetap Kunci, Risiko Dihindari
Meski memuji Mazraoui, Regragui tetap menegaskan peran vital Hakimi. Bek kanan PSG itu dinilai sebagai salah satu pemain terbaik Afrika dan dunia, khususnya dalam aspek transisi menyerang dan eksploitasi sisi sayap.
“Kami tetap membutuhkan Hakimi. Dia adalah salah satu pemain terbaik di Afrika dan di dunia. Tidak ada tim mana pun yang bisa bermain tanpa pemain terbaiknya,” tegas Regragui. “Gaya permainan hari ini sebenarnya cocok untuk Hakimi, dia akan membantu kami di area sayap.”
Keputusan menyimpan Hakimi di laga pembuka murni didasari pertimbangan medis dan kepentingan jangka panjang. Sang pemain belum tampil sejak cedera di kompetisi Eropa dan baru kembali lebih cepat dari jadwal rehabilitasi awal. “Kami tidak mengambil risiko. Kami ingin dia siap untuk turnamen ini, bukan hanya 20 menit atau satu pertandingan,” tambah Regragui. Evaluasi lanjutan akan dilakukan dalam 48 jam untuk menentukan peluang tampilnya Hakimi pada laga berikutnya melawan Mali.
Maroko dan Standar Juara
Kemenangan atas Comoros memperlihatkan standar juara yang dibangun Maroko. Organisasi permainan rapi, tempo terkontrol, dan kedalaman bangku cadangan membuat mereka mampu mengatasi situasi sulit tanpa panik. Mazraoui menjadi simbol nyata “gudang talenta” Maroko—pemain yang siap tampil kapan pun dibutuhkan, dengan kualitas yang tidak jauh berbeda dari bintang utama.
Dari sisi taktik, Maroko menunjukkan fleksibilitas. Ketika Hakimi absen, beban eksplosivitas sayap kanan tidak sepenuhnya diandalkan pada overlap ekstrem. Sebaliknya, Mazraoui menawarkan stabilitas, progresi bola yang lebih tenang, serta akurasi umpan yang membuka ruang bagi gelandang dan penyerang.
Tantangan Berikutnya dan Optimisme Publik
Dengan tiga poin di tangan, Maroko menatap laga berikutnya dengan kepercayaan diri tinggi. Namun Regragui menegaskan fokus tim tetap pada proses, bukan euforia. Rotasi akan dilakukan sesuai kondisi fisik pemain, termasuk menentukan waktu terbaik mengembalikan Hakimi ke starting XI.
Bagi publik tuan rumah, penampilan Mazraoui memberi rasa aman. Jika Hakimi belum siap, Maroko tetap memiliki solusi berkualitas. Jika Hakimi kembali, Regragui bahkan punya opsi taktis untuk memaksimalkan keduanya—entah melalui rotasi, perubahan peran, atau penyesuaian formasi.
Kesimpulan
Laga pembuka Piala Afrika 2025 menjadi panggung pembuktian kedalaman skuad Maroko. Noussair Mazraoui tampil mengesankan sebagai pengganti Achraf Hakimi, menghadirkan keseimbangan dan kualitas yang dibutuhkan tim. Pujian pelatih, kontribusi konkret di lapangan, serta hasil maksimal menegaskan satu pesan: Maroko bukan hanya punya bintang, tetapi juga sistem dan regenerasi yang matang. Dengan fondasi ini, Singa Atlas layak diposisikan sebagai salah satu kandidat terkuat dalam perburuan trofi kontinental.
BACA JUGA :