• BTC$95,426.54
    4.35%
  • ETH$3,330.58
    7.09%
  • USDT$1.00
    0.06%
  • XRP$2.17
    5.18%
  • BNB$949.47
    4.73%
  • SOL$145.57
    4.43%
  • USDC$1.00
    -0.06%
  • STETH$3,329.19
    7.02%
  • TRX$0.31
    1.57%
  • DOGE$0.15
    8.10%
  • ADA$0.42
    9.01%
  • WSTETH$4,076.85
    7.09%
  • XMR$669.33
    3.83%
  • BCH$614.60
    -1.43%
  • WBTC$95,207.53
    4.36%

SBOTOP : Bangga Dirut PSIM Wakili Indonesia di NFL Amerika Serikat, Ukir Sejarah Baru

Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, mencatatkan pengalaman bersejarah dalam perjalanan kariernya di dunia olahraga. Perempuan berusia 41 tahun itu menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang terpilih mengikuti program global women leaders in sports yang digelar di Amerika Serikat, sebuah forum prestisius yang mempertemukan para pemimpin perempuan terbaik dari berbagai negara.

Program tersebut bukan ajang sembarangan. Dari lebih dari 160 negara yang mengajukan kandidat setiap tahunnya, hanya tersedia sekitar 15 kursi terpilih. Pada edisi kali ini, Liana Tasno menjadi satu dari 14 delegasi terpilih yang mewakili 13 negara di dunia. Pencapaian itu sekaligus menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju dalam pengembangan kepemimpinan perempuan di industri olahraga global.

Program ini diselenggarakan dengan landasan Title IX, sebuah undang-undang penting di Amerika Serikat yang mendorong kesetaraan gender dalam pendidikan dan olahraga. Semangat inilah yang menjadi ruh utama seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari diskusi kebijakan, manajemen organisasi, hingga praktik langsung di industri olahraga profesional.

“Untuk bisa lolos ke program ini tidak mudah. Prosesnya panjang dan sangat selektif. Saya harus melewati banyak tahapan wawancara, seleksi administrasi yang ketat, hingga penilaian rekam jejak kepemimpinan,” ungkap Liana Tasno pada Kamis (18/12/2025).

Kesempatan Langka di Industri Olahraga Nomor Satu Dunia

Dari seluruh delegasi terpilih, Liana Tasno mendapatkan penempatan yang sangat istimewa. Ia menjadi satu-satunya peserta yang ditempatkan langsung di National Football League (NFL), liga olahraga profesional paling bernilai dan berpengaruh di Amerika Serikat, bahkan dunia.

“Saya sangat bersyukur. Dari seluruh delegasi, hanya saya yang mendapat kesempatan belajar langsung di NFL. Itu sebuah kehormatan besar, bukan hanya untuk saya pribadi, tapi juga untuk Indonesia,” ucapnya dengan penuh kebanggaan.

Selama program berlangsung, Liana mengikuti pelatihan dan observasi intensif di tiga lokasi strategis, yakni markas Green Bay Packers, kantor pusat NFL, serta NFL Films, unit kreatif yang mengelola dokumentasi dan konten media NFL. Dari sana, ia mempelajari secara langsung bagaimana sebuah organisasi olahraga dikelola secara profesional, modern, dan berkelanjutan.

Di Green Bay Packers, Liana mendalami lima nilai utama yang menjadi fondasi kuat organisasi tersebut, yaitu integrity, respect, teamwork, stewardship, dan excellence. Kelima nilai ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diterapkan dalam setiap aspek operasional klub.

Integritas Jadi Pelajaran Paling Berharga

Dari sekian banyak ilmu yang diserap, satu nilai yang paling membekas bagi Liana Tasno adalah integritas. Ia menilai, integritas merupakan fondasi utama yang masih perlu diperkuat dalam ekosistem olahraga Indonesia.

“Integrity adalah pelajaran nomor satu yang ingin saya terapkan. Mulai dari internal organisasi dulu, lalu semoga bisa menular ke lingkungan olahraga yang lebih luas di Indonesia,” tegasnya.

Menurut Liana, berbagai persoalan yang menghambat kemajuan olahraga nasional sering kali bermuara pada lemahnya integritas. Praktik curang, konflik kepentingan, hingga pengelolaan yang tidak transparan menjadi tantangan serius yang harus dihadapi bersama.

“Kalau bicara jujur, korupsi dan praktik tidak sehat itu yang paling merusak olahraga kita. Padahal potensi atlet dan industrinya sangat besar,” ujarnya.

Belajar dari Cara Amerika Membangun Olahraga

Selain manajemen klub, Liana Tasno juga terkesan dengan bagaimana pemerintah Amerika Serikat memposisikan olahraga sebagai investasi sosial. Olahraga tidak hanya dipandang sebagai hiburan atau kompetisi, tetapi sebagai alat pembentuk karakter, penggerak ekonomi, dan penguat komunitas.

“Mereka sadar bahwa olahraga punya dampak luar biasa. Bukan hanya prestasi, tapi juga nilai-nilai seperti disiplin, kerja sama, dan kepemimpinan di masyarakat,” jelasnya.

Pendekatan tersebut membuka wawasan Liana tentang pentingnya sinergi antara klub, liga, pemerintah, dan komunitas dalam membangun ekosistem olahraga yang sehat dan berkelanjutan.

Dari Amerika untuk Masa Depan PSIM dan Generasi Muda

Sekembalinya ke Tanah Air, Liana Tasno tidak ingin ilmu dan pengalaman tersebut berhenti sebagai catatan pribadi. Ia bertekad menerapkannya secara bertahap di PSIM Yogyakarta, sekaligus berbagi inspirasi kepada generasi muda.

Salah satu gagasan yang akan segera ia dorong adalah program PSIM Goes to School, sebuah inisiatif edukatif untuk memperkenalkan industri olahraga sebagai jalur karier profesional kepada pelajar dan mahasiswa.

“Saya ingin membuka wawasan anak-anak muda. Bahwa industri olahraga itu luas, profesional, dan penuh peluang. Tidak melulu soal menjadi atlet,” ujar perempuan kelahiran Bandung tersebut.

Bagi Liana Tasno, pengalaman di Amerika Serikat bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan amanah untuk membawa perubahan positif. Ia berharap, langkah kecil yang dimulai dari PSIM dapat menjadi inspirasi bagi kemajuan olahraga Indonesia secara keseluruhan.

“Kalau kita mau belajar, terbuka, dan berani berubah, saya yakin olahraga Indonesia bisa jauh lebih baik,” pungkasnya.

BACA JUGA :