• BTC$95,471.47
    4.72%
  • ETH$3,333.82
    7.49%
  • USDT$1.00
    0.05%
  • XRP$2.18
    5.96%
  • BNB$949.05
    4.98%
  • SOL$145.91
    5.29%
  • USDC$1.00
    -0.05%
  • STETH$3,332.70
    7.46%
  • TRX$0.30
    1.81%
  • DOGE$0.15
    8.56%
  • ADA$0.42
    9.44%
  • WSTETH$4,082.49
    7.52%
  • XMR$681.99
    7.32%
  • BCH$614.51
    -1.65%
  • WBTC$95,223.77
    4.68%

SBOTOP : Pemecatan Indra Sjafri Jadi Sorotan Media Vietnam Usai Timnas U-22 Gagal di SEA Games

Keputusan PSSI mengakhiri kerja sama dengan Indra Sjafri setelah kegagalan Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025 langsung menjadi sorotan media Asia Tenggara. Sejumlah media Vietnam secara khusus mengulas performa Garuda Muda sepanjang turnamen dan menilai pemecatan sang pelatih sebagai konsekuensi dari target yang tidak tercapai.

Indonesia U-22, yang datang ke Thailand dengan status juara bertahan SEA Games, justru gagal melangkah ke babak semifinal. Hasil tersebut dinilai mengejutkan dan memicu evaluasi menyeluruh di tubuh federasi sepak bola Indonesia.

Media Vietnam melihat kegagalan ini bukan sekadar hasil satu pertandingan, melainkan akumulasi dari performa yang tidak stabil sejak fase awal kompetisi.

Media Vietnam Nilai Performa Garuda Muda Tak Meyakinkan

Salah satu media terkemuka Vietnam, Tuoi Tre, secara terbuka menilai bahwa Timnas Indonesia U-22 tidak menunjukkan performa yang cukup meyakinkan sejak pertandingan pertama. Mereka menyoroti minimnya konsistensi permainan sebagai faktor utama kegagalan tim asuhan Indra Sjafri.

“Pelatih kepala Timnas Indonesia U-22 telah dipecat setelah penampilan buruk di SEA Games ke-33. Indra Sjafri diberhentikan usai gagal membawa timnya lolos ke babak semifinal turnamen sepak bola putra SEA Games,” tulis Tuoi Tre dalam laporannya pada Rabu (17/12/2025).

Media tersebut juga menegaskan bahwa kegagalan menembus empat besar menjadi indikator paling jelas bagi federasi untuk mengambil langkah tegas.

Kekalahan Awal Jadi Titik Balik yang Merugikan

Dalam ulasannya, Tuoi Tre menempatkan kekalahan Indonesia U-22 pada laga pembuka sebagai titik krusial yang memengaruhi perjalanan tim di turnamen. Garuda Muda dinilai gagal bangkit sepenuhnya setelah hasil negatif tersebut.

“Sebagai juara bertahan SEA Games ke-32 di Kamboja, Indonesia justru mengalami kekalahan pahit di fase awal SEA Games ke-33. Perubahan format kompetisi membuat persaingan menjadi jauh lebih intens,” tulis media tersebut.

Media Vietnam menilai bahwa tekanan kompetisi memang meningkat akibat format baru, tetapi kondisi tersebut berlaku untuk semua peserta. Oleh karena itu, kegagalan Indonesia tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan faktor eksternal.

Format Baru SEA Games Tak Jadi Alasan Utama

SEA Games 2025 menerapkan format kompetisi yang berbeda dibanding edisi sebelumnya, dengan jumlah pertandingan yang lebih padat dan margin kesalahan yang semakin kecil. Namun, media Vietnam menegaskan bahwa perubahan tersebut seharusnya bisa diantisipasi oleh tim sekelas Indonesia.

Dalam pandangan mereka, adaptasi terhadap format baru justru menjadi cerminan kualitas pelatih dan kesiapan tim secara menyeluruh. Ketidakmampuan membangun pola permainan yang solid dinilai sebagai kelemahan utama Garuda Muda sepanjang turnamen.

Skuad Dinilai Kuat, Hasil Tak Sejalan

Menariknya, media Vietnam justru menilai komposisi pemain Timnas Indonesia U-22 tergolong kuat dibanding beberapa pesaing di kawasan Asia Tenggara. Tuoi Tre menyoroti kehadiran pemain berdarah Eropa serta pemain yang telah berpengalaman di level internasional.

“Pada SEA Games tahun ini, Timnas Indonesia U-22 membawa skuad yang relatif kuat ke Thailand. Mereka mengombinasikan pemain domestik berbakat dengan pemain keturunan Eropa,” tulis Tuoi Tre.

“Beberapa di antaranya juga telah bermain di luar negeri dan bahkan memperkuat tim nasional senior. Namun, kekuatan tersebut tidak tercermin dalam gaya bermain yang meyakinkan,” lanjut laporan itu.

Hal ini membuat kegagalan Indonesia dinilai semakin kontras antara potensi di atas kertas dan hasil di lapangan.

Evaluasi Internal PSSI Berujung Pemecatan

Setelah turnamen berakhir, PSSI bergerak cepat melakukan evaluasi menyeluruh. Proses penilaian kinerja tim dilakukan oleh jajaran Badan Tim Nasional (BTN), Exco PSSI, hingga pimpinan federasi.

Keputusan untuk mengakhiri kerja sama dengan Indra Sjafri diumumkan secara resmi di Jakarta. Ketua BTN, Sumardji, menyampaikan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil evaluasi kolektif.

“Tentu kami sudah melaporkan pelaksanaan tim kepada Exco, Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan federasi secara keseluruhan. Setelah dilakukan evaluasi bersama, kami sepakat bahwa langkah pertama adalah mengakhiri hubungan kerja coach Indra Sjafri dengan PSSI,” ujar Sumardji.

Proses Profesional dan Hak Pelatih Tetap Dihormati

PSSI memastikan bahwa keputusan tersebut diambil melalui proses profesional. Pertemuan antara federasi dan Indra Sjafri telah dilakukan sebelum pengumuman resmi disampaikan ke publik.

Federasi juga menegaskan bahwa hak dan kewajiban kedua belah pihak akan diselesaikan sesuai dengan kontrak dan ketentuan yang berlaku. Langkah ini diambil untuk menjaga hubungan baik dan profesionalisme antara PSSI dan pelatih yang telah berjasa membawa medali emas SEA Games 2023.

Sorotan Regional dan Tantangan ke Depan

Pemecatan Indra Sjafri menunjukkan betapa besar ekspektasi publik dan federasi terhadap Timnas Indonesia U-22. Media Vietnam menilai langkah tegas PSSI mencerminkan ambisi tinggi sepak bola Indonesia di level regional.

Ke depan, tantangan bagi PSSI adalah menemukan sosok pelatih yang mampu memaksimalkan potensi pemain muda sekaligus menjawab tuntutan prestasi. Sementara itu, kegagalan di SEA Games 2025 menjadi pengingat bahwa dominasi di Asia Tenggara tidak bisa dianggap sebagai hal yang pasti.

Sorotan media regional pun menjadi bukti bahwa sepak bola Indonesia kini berada dalam pengawasan ketat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

BACA JUGA :